Home » , » Islam Dalam Pandangan Barat (Bagian 2)

Islam Dalam Pandangan Barat (Bagian 2)



Oleh: Amriadi Al Masjidiy*
Psy War | Tentu saja harus diakui, Barat memang memiliki berbagai keunggulan dalam studi Islam, karena mereka sudah menyiapkan hal ini dengan sesungguhnya selama ratusan tahun. Literatur-literatur keislaman juga berhasil mereka himpun dengan baik. Sarjana-sarjana dan pakar diberbagai bidang kajian Islam juga sudah mereka miliki. Dengan keunggulan ekonomi, mereka juga memberikan fasilitas belajar yang nyaman kepada banyak sarjana muslim dari berbagai dunia Islam. Maka, setiap tahun, kita menyaksikan ribuan sarjana muslim belajar tentang Islam kepada sarjana-sarjana Yahudi dan Kristen. Sementara itu, pada saat yang sama, hampir tidak ditemukan, ada sarjana Kristen-Yahudi yang belajar tentang agama mereka kepada sarjana muslim.
Di masa klasik dulu, seorang misionaris legendaries Henry Martyn menyatakan, saya datang menemui umat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan pasukan tapi dengan akal sehat, tidak dengan kebencian tapi dengan pasukan tapi dengan cinta. Karena itu, untuk menaklukan dunia Islam, gunakan kata, logika dan cinta, bukan dengan kekerasan. Bagi para misionaris Kristen, mengkristenkan kaum muslim adalah satu keharusan. Jika tidak, maka dunia pun akan diislamkan. Oleh karena itu kita harus masuk ke Arabia; kita harus masuk ke Sudan; kita harus masuk Asia Tengah dan kita harus mengkristen orang-orang ini atau mereka akan berbaris melewati gurun-gurun pasir mereka dan mereka akan menyapu seperti api yang melahap kekristenan kita dan menghancurkannya. Ringkasnya, misionaris ini menyatakan; kekristenkan Islam, atau mereka akan menggayangkan Kristen.
Prof. Dr.Wan Mohd Nor Wan Daud mengatakan, Kembangkitan Islam di atas pentas sejarah telah menentang da’waan agama Kristiani sebagai agama yang universal untuk seluruh manusia. Sejak dari awal Al-Qur’an telah mengugat dasar-dasar aqidah kristiani (Trinitas) yang menolak bahwa Allah . Bisa beranak dan diperanakkan, serta hakikat Nabi Isa serta ibunya Maryam. Al-Qur’an  telah menceritakan dengan jelas sikap dan tingkah  laku ketua-ketua yahudi  dalam menyelewengkan ajaran para anbiya dari bani Israel. Islam telah mengubah tubuh dan jiwa orang-orang Barat  secara revolusioner dalam segala bidang (Linguistik, sosial,kebudayaan,Ilmu dan Ekonomi). Peluasan pengaruh Islam serta tanah taklukannya ke seluruh Timur Tengah termasuk kawasan yang dulunya di miliki oleh kerajaan Bizantium, India dan Afrika dalam waktu yang begitu cepat, dan selama lima abab menguasai lalu perdangan laut mediateanean dan India. Islam mempunyai potensi untuk bangkit semula berdasarkan konsep tajdidnya dan mampu mencabar hemogeni kebudayaan Barat dari masa akan datang.
“Rand Corporation” yaitu sebuah Pusat Penelitian dan Pengkajian Strategi tentang Islam dan Timur Tengah, yang berpusat di Santa Monica – California dan Arington -Virginia di Amerika Serikat, atas biaya Smith Richardson Foundation, melakukan kajian Gerakan Islam di berbagai belahan Dunia Islam. Hasil penelitian dan kajian lembaga ini telah diturunkan dalam bentuk sejumlah Laporan Resmi yang antara lain berjudul : Civil Democratic Islam (Th.2003) dan Building Moderate Muslim Networks (Th.2007).
Laporan “Rand Corporation” menjadi referensi penting bagi Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Intelligent Council / NIC) yang membawahi 15 Badan Intelijen dari 15 Negara, yang diketuai oleh Robert Hutchings. Dalam berbagai laporan hasil kajiannya, “Rand Corporation” memetakan Gerakan Islam sesuai dengan kepentingan Barat, yaitu menjadi empat kelompok : Fundamentalis, Modernis, Liberalis dan Tradisionalis. Dalam rincian setiap kelompok tersebut, diuraikan tentang karakter, ciri, status dan cara penanganan tiap kelompok.
Ditambah lagi dengan dokumen-dokumen hasil penelitian lainnya, maka menjadi jelas bahwasanya klasifikasi gerakan Islam yang dilakukan para peneliti Barat sangat subyektif, karena hanya berdasarkan kepentingan Barat semata.
1.      Fundamentalis
Berdasarkan kacamata Barat dan sesuai dengan kepentingannya, yang dimaksud dengan Fundamentalis ialah Gerakan Islam yang berkarakter “Anti Barat”. Cirinya ada empat, yaitu : Pro Syariat Islam, Pro Khilafah Islamiyah, Anti Demokrasi Barat dan Kritis terhadap pengaruh Barat. Status kelompok ini adalah “Berbahaya”, dan penanganannya adalah “Habisi”. Siapa pun, perorangan atau kelompok Islam, yang mendukung perjuangan penerapan Syariat Islam, dan setuju dengan penegakan sistem Khilafah Islamiyah, serta menolak sistem Demokrasi Barat, lalu bersikap kritis dan selektif terhadap pengaruh Barat, maka dipastikan oleh Barat ia adalah Fundamentalis, baik lugas mau pun tegas, lembut mau pun keras, kalem mau pun vokal, diam di rumah atau pun turun ke jalan. Kelompok ini diberi status “Berbahaya” karena dinilai mengancam kepentingan Barat. Kelompok ini dianggap tidak bersahabat dengan Barat, bahkan cenderung memusuhi Barat. Kelompok yang Anti Demokrasi Barat selalu dinilai sebagai kelompok yang tidak menghargai musyawarah, tidak toleran terhadap perbedaan, mau menang sendiri, suka memaksakan kehendak, anti dialog, kaku, kolot, radikal dan eksklusif. Kelompok ini harus dihabisi dengan berbagai macam jalan, antara lain :
Pertama, stigmaisasi kelompok. Caranya, semua perbuatan baik kelompok ini tidak boleh dipublikasikan oleh jaringan media Barat dan anteknya. Sebaliknya, semua kesalahan atau keburukan kelompok ini sekecil apa pun, wajib dipublikasikan secara besar-besaran, bahkan harus diulang-ulang pemberitaannya, walau pun sudah kadaluwarsa. Buat stigma negatif kelompok ini sehingga diidentikkan dengan sesuatu yang tidak disukai masyarakat, seperti radikalis, anarkis, teroris, dan sebagainya.
Kedua, pengkerdilan aktivis. Caranya, halangi mereka dari pengembangan pendidikan dan kualitas SDM lainnya. Dalam pemberitaan para tokoh dan aktivis kelompok ini tidak boleh disebutkan gelar akademis atau pun gelar kehormatan mereka, apalagi menyebut suatu karya atau hasil kerja mereka. Cukup sebut nama, dan mereka mesti ditampilkan sebagai orang yang tidak cerdas, tidak rapih, tidak kreatif dan tidak santun, bahkan tonjolkan kebodohan dan keterbelakangan serta kegarangannya.
Ketiga, pengucilan kelompok. Caranya, jangan beri kelompok ini kesempatan sekecil apa pun dalam sistem kekuasaan, baik legislatif, yudikatif mau pun eksekutif. Jangan libatkan kelompok ini dalam even apa pun, baik nasional mau pun internasional. Jangan pernah meminta pendapat apa pun dalam urusan yang bagaimana pun kepada kelompok ini. Jangan pernah memberi peran apa pun dalam situasi bagaimana pun dan dimana pun.
Keempat, pembusukan kelompok. Caranya, susupi dan adu domba antar aktivis dan antar pimpinan mau pun anggota kelompok ini. Tunggangi setiap aksi kelompok ini dan kacaukan agendanya. Ciptakan aneka kerusakan yang bisa dinisbahkan kepada kelompok ini. Sebar fitnah dan tuduhan apa saja secara tersistem yang bisa menghancurkan kelompok ini.
Kelima, pembunuhan kelompok. Caranya, jebak dan ciptakan alasan hukum untuk menangkap para tokoh dan aktivis kelompok ini. Buat alasan legal formal untuk membubarkan kelompok ini. Dorong penguasa agar menjadikan kelompok ini sebagai organisasi terlarang. Bayar preman untuk diadu dengan kelompok ini. Ancam, teror dan intimidasi kelompok ini dimana pun mereka berada. Buat para tokoh dan aktivis kelompok ini tidak nyaman berpergian kemana pun. Pada kondisi puncak : Bunuh tokoh dan aktivis kelompok yang paling berbahaya bagi kepentingan Barat.

2.      Modernis
Berdasarkan kacamata Barat dan sesuai dengan kepentingannya, yang dimaksud dengan Modernis ialah “Kelompok Islam” yang berkarakter “Pro Barat”. Cirinya ada empat, yaitu : Anti Syariat Islam, Anti Khilafah Islamiyah, Pro Demokrasi Barat dan Tetap Kritis terhadap pengaruh Barat. Status kelompok ini adalah “Aman”, dan penanganannya adalah “Rangkul”. Kekritisan Modernis dan kekritisan Fundamentalis terhadap pengaruh Barat tidak sama. Kekritisan Fundamentalis berdiri atas dasar Syariat Islam, artinya segala pengaruh Barat yang bertentangan dengan Syariat Islam pasti ditolak. Sedangkan kekritisan Modernis hanya atas dasar kepentingan kelompok, bahkan cenderung pragmatis dan materialis. Siapa pun, perorangan atau kelompok yang “mengaku” Islam, tapi menolak penerapan Syariat Islam, dan tidak setuju dengan penegakan sistem Khilafah Islamiyah, serta sebaliknya setuju dan mendukung sistem Demokrasi Barat, namun tetap bersikap kritis dan selektif terhadap pengaruh Barat, maka dipastikan oleh Barat ia adalah Modernis, baik lugas mau pun tegas, lembut mau pun keras, kalem mau pun vokal, diam di rumah atau pun turun ke jalan.
Kelompok ini diberi status “Aman” karena dinilai tidak mengancam kepentingan Barat. Kelompok ini dianggap cukup bersahabat dengan Barat dan menguntungkan Barat, bahkan cukup pro Barat. Kelompok yang Modernis selalu dinilai sebagai kelompok yang cukup menghargai musyawarah, cukup toleran terhadap perbedaan, tidak bersikap mau menang sendiri, tidak suka memaksakan kehendak, dialogis, kompromis, tidak kaku, tidak kolot, bahkan progresif dan inklusif. Kelompok ini harus dirangkul dengan berbagai macam jalan, antara lain :
Pertama, pencitraan kelompok. Caranya, semua perbuatan baik kelompok ini harus dipublikasikan oleh jaringan media Barat dan anteknya. Sebaliknya, semua kesalahan atau keburukan kelompok ini sebesar apa pun, tidak boleh dipublikasikan, apalagi diulang-ulang pemberitaannya, walau pun berita baru. Andai pun mesti diberitakan cukup sekedarnya, itu pun harus disertai dengan pembelaan. Buat stigma positif kelompok ini sehingga diidentikkan dengan sesuatu yang disukai masyarakat, seperti humanis, dialogis, kompromis, dan sebagainya.
Kedua, pengembangan aktivis. Caranya, beri para aktivis Modernis bea siswa untuk meraih berbagai gelar akademis di dalam mau pun luar negeri. Dalam pemberitaan para tokoh dan aktivis kelompok ini harus disebutkan gelar akademis atau pun gelar kehormatan mereka sepanjang-panjangnya, termasuk menyebut aneka karya atau hasil kerja mereka. Mereka harus dipuji dan terus diberi penghargaan dan penghormatan di tingkat nasional mau pun internasional. Mereka mesti ditampilkan sebagai orang yang rapih, disiplin, kreatif dan santun, bahkan tonjolkan kecerdasan dan kemajuan serta kemodernannya.
Ketiga, pengaktifan kelompok. Caranya, beri kelompok ini kesempatan sebesar-besarnya dalam sistem kekuasaan, baik legislatif, yudikatif mau pun eksekutif. Libatkan kelompok ini dalam even apa pun, baik nasional mau pun internasional. Minta pendapat apa pun dalam urusan yang bagaimana pun kepada kelompok ini. Dan beri peran apa pun dalam situasi bagaimana pun dan dimana pun kepada mereka.
Keempat, penyegaran kelompok. Caranya, beri bantuan finansial secukupnya untuk berbagai kegiatan kelompok ini. Ciptakan kesempatan sosialisasi di semua lini. Beri ruang yang cukup di berbagai media cetak mau pun elektronik. Siapkan sarana dan prasarana yang memadai untuk melancarkan gerak langkah kelompok ini.
Kelima, pembelaan dan perlindungan kelompok. Caranya, dorong penguasa agar menjadikan kelompok ini sebagai mitra dan sumber masukan untuk berbagai kebijakan. Jaga kelompok ini dari segala gangguan. Buat para tokoh dan aktivis kelompok ini agar nyaman berpergian kemana pun, dan fasilitasi secukupnya.

3.      Liberalis
Berdasarkan kacamata Barat dan sesuai dengan kepentingannya, yang dimaksud dengan Liberalis ialah “Kelompok Islam” yang berkarakter “Antek Barat”. Cirinya ada empat, yaitu : Anti Syariat Islam, Anti Khilafah Islamiyah, Pro Demokrasi Barat dan Tidak Kritis terhadap pengaruh Barat. Status kelompok ini adalah “Sangat Aman”, dan penanganannya adalah “Besarkan”. Siapa pun, perorangan atau kelompok yang “mengaku” Islam, yang sangat menolak penerapan Syariat Islam, dan sangat tidak setuju dengan penegakan sistem Khilafah Islamiyah, serta sangat setuju dan amat mendukung sistem Demokrasi Barat, dan sama sekali tidak kritis terhadap pengaruh Barat, bahkan menelannya tanpa seleksi karena baginya semua yang berasal dari Barat sudah di atas segalanya, maka dipastikan oleh Barat ia adalah Liberalis, baik lugas mau pun tegas, lembut mau pun keras, kalem mau pun vokal, diam di rumah atau pun turun ke jalan.
Kelompok ini diberi status “Sangat Aman” karena dinilai sama sekali tidak mengancam kepentingan Barat, bahkan justru sangat menguntungkan Barat. Kelompok ini dianggap sangat bersahabat dengan Barat, bahkan sudah menjadi “Antek Barat”. Kelompok Liberalis selalu dinilai Barat sebagai kelompok yang sangat menghargai musyawarah, sangat toleran terhadap perbedaan, sangat suka mengalah, sangat tidak suka memaksakan kehendak, sangat dialogis dan amat kompromis, tidak kaku, tidak kolot, bahkan sangat progresif dan inklusif. Kelompok ini harus dibesarkan dengan berbagai macam jalan sebagaimana jalan merangkul kelompok Modernis. Hanya saja kelompok ini harus diprioritaskan dan harus dianak-emaskan ketimbang kelompok Modernis. Jadi, jika kelompok Modernis harus dibantu dalam soal pencitraan, pengembangan, pengaktifan, penyegaran, pembelaan dan perlindungan, maka kelompok Liberalis harus lebih dari itu semua, karena Liberalis punya nilai tambah dibanding Modernis, yaitu sama sekali tidak kritis terhadap pengaruh Barat, bahkan selalu “membebek” terhadap kebijakan dan keinginan Barat. Karenanya, jika seorang Modernis cukup di-negarawan-kan, maka seorang Liberalis perlu di-wali-kan.

4.      Tradisionalis
Berdasarkan kacamata Barat dan sesuai dengan kepentingannya, yang dimaksud dengan Tradisionalis ialah Gerakan Islam yang berkarakter “Netral” yaitu tidak anti mau pun pro terhadap Barat. Cirinya ada empat, yaitu : Pro Syariat Islam, Pro Khilafah Islamiyah, Pro Demokrasi Barat dan Kritis terhadap pengaruh Barat. Status kelompok ini adalah “Waspada” dan penanganannya adalah “Dijaga”. Dalam batas tertentu, kelompok ini terlihat agak “plin-plan”, karena menerima sistem Islam dan sistem Demokrasi Barat sekaligus. Namun dalam batas lain, kelompok ini memiliki pemahaman sendiri tentang makna Demokrasi, tidak seperti pemahaman kaum Modernis atau pun Liberalis. Dan dalam batas lainnya lagi, kelompok ini terlalu lugu dan polos, sehingga terlalu “Husnu Zhonn” dengan sistem Demokrasi Barat. Kelompok ini diberi status “Waspada” karena tiga dari empat ciri yang dimilikinya sama dengan ciri Fundamentalis, sehingga dikhawatirkan mudah terseret menjadi Fundamentalis. Dalam penilaian Barat, kelompok ini setiap saat bisa berubah menjadi ancaman bagi kepentingan Barat. Oleh sebab itu, kelompok ini harus dijaga betul, antara lain dengan jalan :
Pertama, pemisahan kelompok, yaitu kelompok ini harus dipisahkan dan dijauhkan dengan kelompok Fundamentalis, bahkan kalau perlu diadu-domba, karena persentuhan kelompok ini dengan Fundamentalis berpotensi besar merubahnya jadi Fundamentalis.
Kedua, pendekatan kelompok, yaitu kelompok ini harus terus didekati dan secara perlahan diliberalkan atau dimoderniskan, atau sekurangnya menjadi sahabat untuk menghantam Fundamentalis. Kelompok ini sangat potensial karena berakar hingga ke akar rumput, sehingga bisa menjadi kawan yang manfaat bagi Barat untuk menghadapi kaum Fundamentalis.
Ketiga, perubahan kelompok, yaitu memberi kader-kader muda kelompok ini bea siswa untuk studi Islam di negeri Barat, sehingga saat kembali ke negerinya bisa menjadi ujung tombak perubahan kelompok ini menjadi Liberalis atau Modernis. Diutamakan kader-kader muda dari anak cucu tokoh-tokoh sentral kelompok ini sehingga upaya perubahan bisa lebih maksimal agar hasilnya lebih optimal.

C.    Islam Bangkit
Sebelumnya kita udah melihat perbedaan antara Islam di zaman dulu dengan zaman sekarang dan kita juga udah meneliti bahwa ternyata ada Islam zaman dulu punya, tapi islam zaman sekarang tidak punya. Dan hal yang dimiliki Islam zaman dulu itu adalah 3 pilar Islam. 3 pilar ini haruslah ada, bila tidak, Islam akan hancur.
1.      Pilar ketaqwaa individu.
Islam zaman dulu sudah punya 3 pilar ini. Sehingga islam bisa berdiri ditopang di atasnya. Sedangkan islam zaman sekarang? Ketaqwaan individu, ketika seseorang merasa selalu diawasi oleh Allah. Karena Islam itu adalah agama yang paling lengkap. Bayangin saja:
@ Masuk WC saja harus dengan kaki kiri dulu. 
@ Kalau keluar dari WC, harus dengan kaki kanan. 
@ Do'anya pun ada juga ketika mau masuk dan keluar WC. 
@ Pakai baju pun harus dengan tangan kanan dulu, lalu tangan kiri.
@ Pakai baju pun ada do'anya juga.
@  Habis pakai baju, kemudian bercermin, bercermin itu pun ada juga do'anya.
@ Mau masuk pasar, ada do'anya juga.
@ Mau belajar, ada do'anya juga.
@  Mau pamitan, pakai assalamu'alaikum lagi.
Seperti halnya kalau Anda pernah nonton film perang, tentara, atau yang sibuk latihan begitu. Mereka jadi kuat, disiplin, hebat, cerdas, karena telah melaksanakan beraneka macam aturan dan dril-drilnya. Jadinya nilai diri mereka lebih tinggi. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110). Contohnya lagi, coba, sholat tahajjud itu bagusnya kapan? 1/3 malam terakhir. Karena ketika itu, orang-orang lagi pada tidur, orang-orang tidak tahu, orang-orang tidak melihat apa yang sedang kita kerjakan.
Kita saja sendiri yang bangun. Tidak ada yang melihat kita. Kita cuman mengharap diperhatikan oleh Allah dan memang kita benar-benar tidak peduli dilihat manusia. Pujian dan celaan manusia itu tak ada manfaatnya. Cuman Allah yang bisa memberikan kita pahala maupun siksaan. Maka Allah melatih, "Kamu berbuat, bukan untuk manusia. Tapi kamu berbuat, hanya karena Allah. Pokoknya bukan karena selain Allah." Meningalkan sesuatu pun juga karena Allah.  Enak kan kalau udah begitu? Tidak ada yang korupsi.
Sekiranya dia bertaqwa kepada Allah, pastilah dia menjadikan kerjaannya sebagian dari ibadah kepada Allah. Dan ibadah kepada Allah itu tak harus selalu dilakoni karena dilihat manusia. Inilah pilar yang pertama. Pilar dimana sang individu merasa bahwa ia selalu diawasi oleh Allah. Muraqobah istilahnya. Kalau masih jebol juga, tenang. Masih ada pilar kedua yang lebih hebat.
2.      Pilar Kelompok
Dalam masalah pilar ini, Rasulullah . Bersabda: "Perumpamaan orang yang menerjang hukum Allah dan orang berada padanya seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal, lalu sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di bagian bawah dan sebagian lagi di atas perahu. Lalu orang yang berada di bawah perahu bila mereka mencari air untuk minum, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atas sehingga mengganggu orang yang diatas. Lalu salah seorang yang dibawa mengambil kapak untuk membuat lubang di bawah kapal. Maka orang-orang yang di atas mendatanginya dan berkata: "Apa yang kamu lakukan?" Orang yang di bawah berkata: "Kalian telah terganggu karena aku sedangkan aku memerlukan air". Maka bila orang yang berada di atas mencegah dengan tangan mereka maka mereka telah menyelamatkan orang tadi dan menyelamatkan diri mereka sendiri, namun apabila mereka membiarkan saja apa berarti dia telah membinasakan orang itu dan diri mereka sendiri". (HR. Bukhari: 2489).
Dalam hadits ini merupakan penegasan tentang amar ma’ruf nahyi mungkar, mencegah perbuatan yang membuat malapetaka. Disisi lain dalam berjamaah sangat menjaga diri dari kemaksiatan dan menumbuhkan rasa untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah . Sebagai contoh shalat lima waktu lebih banyak pahalanya dikerjakan secara berjamaah dari pada sendiri. Shalat terawih enaknya dikerjakan secara berjamaah, kalau sendiri pasti tidak terawih. Dan sangat berbahaya bila sendiri, pacaran enak ditempat umum atau di tempat sunyi atau ditempat remang-remang, dan yang ketiganya pasti mati yaitu syetan. biasanya maksiat banyak di lakukan sendirian, nonton film porno pasti sendiri tidak mungkin berjamaah. Oleh karena itu sendiri berbahaya daripada berjamaah.  Jika pilar jamaah masih hancur maka dalam Islammasih ada pilar ketiga.
3.      Pilar Negara
Dalam pilar ini Rasulullah . Bersabda sesungguhnya madinahku ibarat pandai besi. Ia akan membersihkan semua kotoran yang ada dan akan memurnikan kebaikkan-kebaikannya. (HR. Jamaah). Ini semua terjadi di madinah paska nabi . Menjadi pemimpin Negara itu. Jangan lihat apa yang terjadi di Indonesia, masuknya Kiyai keluarnya penggelapan dana Haji. Sudah Ustadz penggelapan dana haji lagi dua kali lipat dosanya. Kenapa pilar ini sangat penting, karena hampir sebagian syariat Islam harus ditegakkan melalui pemimpin Negara. Jika para membagikan 3 tauhid yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma wa sifat. Jika salah satu tauhid itu melanggar maka dia telah kufur. Jika ketiga tauhid ini satu kesatuan. Bagaimana dengan pemimpin Negara, siapa yang akan menegakkan hukum jika tauhid ini melanggar.
Dengan kata lain penegakkan Khilafah termasuk satu kesatuan dalam Aqidah, tidak mungkin terjadi/ditegakkan tauhid jika Negara tidak berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam Islam hukuman bagi perampok, pencuri, penzina dan lain-lain di serahkan kepada pemimpin Islam. Maka jika Negara tidak menegakkan hukum Islam, maka Islam sangat sulid untuk beridiri. Hukum Islam telah teruji selama ribuan tahun efektif untuk ditegakkan mulai dari politik, ekonomi, dan sebagainya telah diatur dalam tantaman kehidupan yang Islami.
Mari kita cek dulu hasil dari tiga pilar ini di Indonesia, pilar pertama masih banyak orang yang mau shalat. Pilar kedua, sudah banyak organisasi dan yayasan Islam yang menegakkan amar ma’ruf nahyi mungkar. Pilar ketiga, tuhan hanya tiggal di masjid. Tuhan tidak masuk ke DPR atau ke Makamah. Hukum Allah cukup dalam al-Qur’an dan As-sunnah saja. Tidak direalisasikan kedalam tantaman Negara. Agama tidak boleh masuk kedalam Negara begitu juga sebaliknya jangan bahas politik di masjid. Karena politik itu kotor dan berbagai macam alasan keluar, sehingga semakin sekuler, liberal dan semakin tersesat dan menyesatkan. Karena pilar ketiga ini tidak ada, maka pantas saja umat Islam pada Stress. Coba bayangkan dua jam macet di jalan. Inilah yang terjadi jika Negara bukan dalam lingkaran Islam.

*) Penulis Merupakan Mantan Pimpinan Islamic Research Forum.

Meraji’

1.      Bertrand Russell, ”Sejarah Filsafat Barat”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
2.      Dr. Habib Rezieq Shihab, M.A, “Hancurkan Liberalis Tegakkan Syariat Islam”, Jakarta: Suara Islam Press, 2013.
3.      Dr.Syauqi Abu Khalil, ”Atlas Penyebaran Islam”, Jakarta: Al Mahira, 2012.
4.      …….., ”Atlas Perjalanan Hidup Nabi Muhammad”, Jakarta: Al Mahira, 2014.
5.   .........., Atlas Perjalanan Nabi dan Rasul, Jakarta: Al Mahira. 2014
6.      Mehdi Nakosteen, “Kontribusi Atas Dunia Intelektual Barat”, Surabaya: Risalah Gusti, 2003.
7.      Mohammad Fadhilah Zain, “Kezaliman Media Massa Terhadap Umat Islam”, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2003.
8.      Suara Islam Online, www.suara-islam.com/habibrezieq
9.      Wikipedia Indonesia Bebas, id.wikipedia.org/romawi
10.      Wikipedia Indonesia Bebas, id.wikipedia.org/Persia

0 komentar:

Posting Komentar

DEMOKRASI

BARAT

FACEBOOK


Diberdayakan oleh Blogger.

Terbaru

Popular Posts

Flag Counter