PsyWar | Pemerintah Bahrain mencabut status kewarganegaraan seorang pemimpin keagamaan Syi'ah di negerinya, kantor berita BNA melaporkan pada hari Senin.
Keputusan telah memicu protes ribuan pendukung di luar kediaman sang tokoh Syi'ah, sekaligus menjadi peringatan bentrokan beberapa tahun silam.
Putusan pencabutan kewarganegaraan terhadap Ayatollah Isa Qassim terjadi tak sampai seminggu setelah pengadilan Bahrain juga membekukan oposisi utama dari kelompok Syi'ah al-Wefaq.
Pemerintah menuduh al-Wefaq telah memancing kerusuhan sektarian dan melayani kepetingan asing (kemungkinan mengacu pengaruh Iran sebagai kiblat Syi'ah.
Bahrain diguncang protes massal yang berujung kerusuhan pada tahun 2011. Dimana penganut Syi'ah sebagai mayoritas menuntut reformasi agar kerajaan Sunni menjadi lebih "Demokratis", atau memberi ruang kekuasaan lebih banyak pada kelompok Syi'ah.
Menurut kantor berita BNA, Kementerian Dalam Negeri menjelaskan jika Qassim telah berusaha untuk memecah belah rakyat Bahrain, mendorong para pemuda melanggar konstitusi serta menyebarkan sektarianisme di negeri yang tengah dilanda perlambatan ekonomi, akibat rendahnya harga minyak dunia itu.
"Berdasarkan (alasan) tersebut, status kewarganegaraan dicabut dari Isa Ahmed Qassim, yang sejak memperoleh status kewarganegaraan Bahrain malah berusaha membentuk organisasi yang berkiblat secara agama dan politik ke luar negeri (Iran)", tulis BNA, dikutip Reuters.
Situs resmi sang Ayatollah Syi'ah menyebutkan jika ia lahir di sebuah desa Syi'ah di Bahrain pada tahun 1940-an, saat masa kolonialisme Inggris.
Saksi mata mengatakan bahwa kerumunan Syi'ah yang mendukungnya diperkirakan mencapai 3.000-4.000 orang, sambil meneriakkan slogan-slogan syirik Syi'ah terhadap imam maksumnya.
Mereka berkumpul di luar kediaman Qassim, di desa Syi'ah Diraz, sebelah barat ibukota Manama.
"Dengan jiwa kami, dengan darah kami, kami berkorban untukmu, ya Husein!," teriak massa Syi'ah, menyebut nama al-Husein, cucu nabi Muhammad, yang diklaim Syi'ah sebagai imam maksum ke-3 mereka.
Rekaman media sosial menunjukkan bahwa Qassim tampak berdiri di luar rumahnya untuk memberi penghormatan pada massa pendukungnya.
Puluhan kendaraan polisi juga terlihat berjaga di sekitar daerah Diraz, dan tidak ada laporan telah pecah bentrokan. Saksi mata melaporkan.
Konsekuensi
Kelompok teroris Hezbollah Lebanon menyebut keputusan Bahrain ini sebagai sesuatu yang "sangat berbahaya" dan menyatakan jika hal itu akan "membawa konsekuensi berat" dalam pemerintahan kerajaan Sunni.
"Pihak berwenang (Bahrain) dengan kebodohan dan kecerobohannya, membawa orang-orang (Syi'ah) Bahrain pada pilihan sulit, yang akan berkonsekuensi berat bagi rezim diktator dan korup ini", kecam kelompok teroris yang di-black list oleh negara-negara Teluk ini.
Bahrain sebelumnya menuduh Iran dan Hezbollah telah mendukung aksi militan Syi'ah dalam serentetan pemboman dan aksi terorisme di negaranya.
Lembaga Hak Asasi dan Demokrasi Bahrain memperingatkan jika pencabutan kewarganegaraan tokoh Syi'ah bisa saja memicu meletusnya kerusuhan.
Ayatollah Syi'ah kantongi rekening jutaan Dollar
Media Bahrain pekan lalu melaporkan bahwa pihak berwenang telah menyelidiki rekening bank bernilai sekitar USD 10 juta atas nama sang Ayatollah Syi'ah.
Aparat tengah memeriksa darimana Qassim mendapatkan harta sebanyak itu serta bagaimana penggunaannya.
Langkah pemerintah direspon pernyataan keras dari para tokoh Syi'ah, termasuk Qassim. Mereka menolak adanya campur tangan pemerintah pada harta Khumus yang diambil (sebesar 20%) dari umat Syi'ah biasa.
Bahrain telah mencabut status kewarganegaraan lebih dari 250 orang dalam dua tahun terakhir. Menjadi cara pemerintah membungkam kekuatan politik oposisi, terutama Syi'ah, dan mengasingkan mereka. (Reuters) [tebarsuara.com]


0 komentar:
Posting Komentar